Selasa, 23 Juni 2015

Chapter 2 : Model Fashion Keren


Masa orientasi di sekolahku diisi dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan seperti games kelompok, perlombaan antar kelompok, bahkan sampai acara berburu tanda-tangan para senior. Di hari pertama masa orientasi inilah aku pertama kali bertemu dengan Welvin, cinta pertamaku (baca Chapter 1 : Cowoh Putih Biru).

Segera setelah kami berdua selesai menyantap makan siang nasi hainanku, aku mengajak Welvin untuk berkeliling gedung sekolahku. Sepanjang tur mengelilingi sekolah, aku menjelaskan berbagai aturan sekolah kepadanya. Hal ini kulakukan karena Welvin tidak mengikuti upacara penyambutan tadi pagi, jadi dia tidak tahu aturan apa saja yang harus diperhatikan.

Ternyata dia anak yang cukup kritis, setiap aku menjelaskan sebuah aturan pasti dia mengajukan pertanyaan. Beberapa pertanyaan memang agak tidak penting dan aneh, tapi beberapa diantaranya cukup sulit juga untuk dijawab. Salah satu contoh pertanyaan yang dia ajukan adalah mengapa siswa di sekolah ini harus menggunakan seragam ketika bersekolah. Aku cukup bingung juga menjelaskannya, karena memang di Indonesia aturan siswa menggunakan seragam saat bersekolah adalah aturan yang umum. Akhirnya aku memutuskan untuk menanyakan alasan dia menanyakan pertanyaan seperti ini.

"Dari kecil aku selalu belajar di rumah bersama guru panggilan, ko. Ini pertama kalinya aku boleh pergi ke sekolah seperti ini". Mendengar itu, aku cukup terkejut karena pada masa itu homeschooling belumlah sepopuler saat ini. Akupun memutar otak untuk memberikan jawaban yang terbaik, karena jika aku memberikan jawaban seadanya, pasti dia akan memberikan pertanyaan yang lebih aneh lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk memberikan sebuah jawaban kepadanya. "Ada 3 buah alasan kenapa kita harus menggunakan seragam di sekolah ini, yang pertama adalah supaya orang lain tahu bahwa kita adalah pelajar. Setiap orang punya kewajiban dan hak masing-masing, misalkan ketika kita sedang berbelanja di mall dan ingin menanyakan suatu barang, kepada siapa kita harus bertanya?",ucapku. "Ke petugas penjaga tokonya, ko", jawabnya dengan santai. "Bagaimana kamu bisa mengetahui siapa penjaga toko dan siapa pengunjung mall, kalau para petugas toko tidak menggunakan seragamnya? Akan lebih sulit untuk menemukan mereka bukan? Begitu juga dengan seragam sekolah. Seragam sekolah membuat orang lebih mudah mengetahui bahwa kita adalah pelajar".

"Yang kedua adalah untuk mengingatkan diri kita sendiri untuk selalu menjaga perilaku kita ketika berada di luar sekolah. Sekolah kita memiliki desain seragam yang berbeda dari sekolah lain bukan, sehingga orang tentu tahu asal sekolah kita dengan melihat seragam kita. Artinya, jika kita melakukan tindakan yang tidak baik, orang yang melihat tahu kemana mereka dapat melaporkan perbuatan kita, bukan?"

"Yang ketiga adalah untuk menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan pada setiap siswa. Sebagai siswa, sekolah ini akan menjadi tempat dimana kita menghabiskan sebagian besar waktu kita. Bisa dibilang ini akan menjadi rumah dan keluarga kedua kita. Jadi seragam kita akan selalu mengingatkan kita untuk selalu bangga menjadi bagian dari keluarga ini"

Setelah aku selesai menjawab, sebuah senyuman hangatlah yang langsung menyambutku. "Wow, ternyata koko pintar juga yah. Dari tadi pagi aku bertanya kepada kepala sekolah dan beberapa guru, tapi mereka hanya mengatakan bahwa memang ini aturan yang sudah ada dari dulu dan harus ditaati. Mereka sendiri tidak tahu alasannya". Untunglah dia puas dengan jawaban hasil karanganku itu, hahahaha. Tapi ya lumayanlah dapat pujian dari junior itu membanggakan juga ternyata.

Setelah dia puas dengan jawabanku, kini saatnya aku yang bertanya. Aku menanyakan mengapa dia hanya diperbolehkan untuk belajar di rumah. "Ayahku adalah seorang atlet badminton, dan dia juga ingin aku menjadi atlet badminton seperti dia. Karena itu, dari kecil aku sudah sibuk latihan badminton, jadi tidak mungkin bersekolah", jawabnya dengan muka sedih. Pantas saja badannya tampak sangat atletis untuk anak seumurnya, memang sedari kecil sudah dilatih.

Setelah selesai berkeliling sekolah, aku membawa Welvin kembali ke aula untuk kuperkenalkan dengan anggota tim yang lain. Setibanya kami di aula, ternyata acara orientasi hari itu sudah hampir berakhir dan Sam sedang berdiri di mimbar untuk menjelaskan acara perlombaan esok hari. Di hari kedua, akan diadakan perlombaan fashion design. Bukan sembarang fashion design karena perlombaan ini mengharuskan setiap kelompok untuk menciptakan satu set kostum yang semua terbuat dari kertas koran. Baju, celana, dan aksesoris lainnya semua harus terbuat dari koran. Aturan lainnya adalah kostum ini harus dikenakan oleh salah satu anggota laki-laki dalam kelompok. Tentunya karena semuanya harus terbuat dari koran, sang model tidak boleh menggunakan sehelai benangpun saat mengenakan kostum koran. Yah kecuali celana boxer, karena kami tidak ingin ada "kecelakaan" saat fashion show berlangsung hahahaha.

Setelah Sam selesai menjelaskan semua aturan untuk perlombaan fashion design esok hari, masing-masing kelompok diberikan waktu untuk berkumpul dan berdiskusi tentang perlombaan ini. Akupun membawa Welvin ke tempat anggota kelompokku yang lain berkumpul dan memperkenalkannya kepada anggota kelompokku, "Kelompok kita ada anggota tambahan, ini Silvia, Angel, Christopher, William, Kevin, dan yang terakhir yang paling bandel ini namanya Ryan"."Senang berkenalan dengan kalian, aku Welvin. Semoga kita bisa jadi teman yang baik yah", ucap Welvin sambil memerkan senyuman mautnya.

"Oke, sekarang kalian sudah saling kenal. Bagaimana dengan perlombaan besok?", tanyaku. Untungnya mamanya Christopher adalah seorang desainer pakaian, jadi Christopher tahu apa saja yang perlu dilakukan. "Pertama, kita harus menentukan dulu siapa yang akan jadi modelnya, karena kostum yang bagus itu adalah kostum yang sesuai dengan bentuk tubuh sang model, bisa menonjolkan kelebihan model sekaligus menutupi kekurangan model", ucap Christopher dengan malu-malu.

Semua mata tertuju kepada Welvin. Jelas sekali Welvin adalah orang yang paling cocok. Badan tinggi atletis hasil latihan badminton sedari kecil, dada bidang, otot biceps dan perut yang sudah mulai nampak, ditambah lagi dengan kulit putih dan senyuman mautnya itu. Bahkan tanpa mengenakan kostumpun, dia pasti menang hahaha. "Oke, berarti udah deal Welvin yang jadi model kelompok kita ya", kata Ryan yang sudah dianggap sebagai pemimpin sementara aku meninggalkan mereka dari tadi siang. "Iya, dari segi tampang dan badan udah cocok banget", tambah Silvia sambil memberikan senyuman tercantiknya pada Welvin.

Setelah mereka memutuskan Welvin sebagai model kelompok, Christopher mengajak mereka untuk mengerjakan tugas ini di rumahnya karena di rumahnya ada pita pengukur dan alat jahit jika diperlukan. Akhirnya kita semua pergi bersama ke rumah Christopher, diantar oleh supirnya Christopher.

Rumah Christopher ternyata merangkap sebagai butik pribadi mamanya. Setelah menyapa mamanya Christopher, kami beranjak ke lantai 3 rumahnya, dimana kamar Christopher berada. Kamarnya sangat rapi dan teratur untuk anak laki-laki. Terlihat sekali Christopher suka membaca buku, kamarnya dipenuhi dengan lemari buku yang tertata rapi di pinggiran ruangan bernuansa kayu mahoni itu.

Kami memulai proses mendesain kostum dengan melakukan pengukuran seluruh badan. Christopher yang mendapat tugas ini karena cuma dia yang tahu cara melakukan pengukuran badan untuk membuat pakaian. Berhubung para model tidak diijinkan menggunakan pakaian selain kostum koran yang dibuat, maka Welvin diminta untuk melepas baju dan celananya. Sementara Welvin bersiap untuk melepaskan bajunya, Silvia dan Angel diminta untuk meunggu di balkon sebentar sampai pengukuran selesai. Welvin melepaskan pakaiannya satu per satu hingga hanya tersisa celana dalam Calvin Klein berwarna biru.

Entah mengapa aku tidak bisa berhenti menatap Welvin saat itu. Aku ingat persis setiap centi tubuhnya, setiap lekuk indah tubuhnya. Benar-benar sempurna. Kulitnya putih bersih tanpa ada cacat sedikitpun,dadanya yang bidang, perutnya yang sudah mulai six pack, betis yang tampak sangat padat berotot, dan wajah imut khas keturunan tionghoa. Aku masih bisa mengingat semua itu sampai detik ini.

Setelah Christopher selesai mengukur Welvin, kami mulai mendiskusikan pakaian seperti apa yang akan kami buat. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat vest untuk bajunya, dan celana 3/4 ala tidus FFX lengkap dengan aksesoris kalung dan pedangnya. Untungnya William adalah cosplayer sejati dan kebetulan dia sudah memiliki papercraft pedang tidus, jadi kami tidak perlu membuat lagi.

Pukul 17:30 akhirnya kami berhasil menyelesaikan kostum koran untuk perlombaan besok. Setelah selesai, tibalah saatnya Welvin mencoba kostumnya untuk pertama kali. Sungguh luar biasa sempurna, memang kostum yang anggota kelompokku buat itu sangat bagus untuk ukuran anak SMP, tapi aku segera keluar kamar Christopher saat Welvin akan mencoba kostum itu untuk pertama kalinya. Aku tidak ingin merusak kejutan untuk esok hari. Aku ingin melihatnya saat sedang beraksi memamerkan kostumnya di perlombaan esok hari.

Aku sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana Welvin beraksi besok. Meskipun aku belum melihat hasil kerja kelompokku itu, aku yakin kelompokku pasti keluar sebagai pemenang, berkat model fashion kerenku itu. Yah, kita lihat bagaimana hasilnya besok Chapter 3 : Si Model Cakep Jatuh.

Stay tune di blog ini ya!

Untuk kritik dan saran, silakan tinggalkan komentar ya.

#love at first sight is indeed beautiful

Tidak ada komentar:

Posting Komentar