Hai guys dan gays...
Terima kasih sudah meluangkan waktu buat membaca blog ku ini.
Ini adalah kisah cinta pertamaku. Kisah ini dimulai saat aku memulai semester baru di kelas 8 SMP. Karena aku adalah salah satu anggota OSIS, maka awal semester adalah waktu untuk mengadakan acara orientasi untuk siswa kelas 7 yang baru masuk.
Pagi itu aku merasa sangat bersemangat karena itu adalah acara orientasi pertama dimana aku bertindak sebagai panitia sekaligus sebagai seorang senior. Tepat pukul 6:45 pagi, bel sekolah berbunyi tanda seluruh aktivitas sekolah dimulai. Mendengar bel itu, akupun segera masuk ke aula tempat acara orientasi dilakukan. Ternyata aula sudah dipenuhi para siswa berbaju putih biru dengan berbagai macam desain. Memang selama acara orientasi, kami mengharuskan para siswa baru ini menggunakan seragam SMP mereka masing-masing. Tujuannya agar kami bisa tahu asal sekolah mereka dan bisa membuat mereka berbaur dengan siswa dari sekolah lain.
Sebagai anggota OSIS yang baru menjabat selama 1 tahun, aku hanya ditunjuk sebagai pemimpin kelompok. Kelompok yang aku pimpin terdiri dari 2 orang perempuan dan 4 orang laki-laki. Mereka adalah Silvia, Angel, Christopher, Kevin, William, dan Ryan. Mereka tampak seperti anak yang baik-baik dan penurut, terutama Christopher dan Angel. Terlihat sekali mereka itu anak rumahan sepertiku hahahaha.
Acara orientasi dimulai dengan upacara penyambutan. Meskipun secara resmi disebut dengan upacara penyambutan, sebenarnya acara ini hanya upacara berjemur di tengah lapangan sambil mendengarkan pidato yang luar biasa panjang dan membosankan dari kepala sekolah. Setelah pidato berakhir, kepala sekolah kami memperkenalkan guru-guru dari kelas 7 sampai kelas 9 SATU PER SATU! Bayangkan anak anak yang kepanasan, lelah, dan bosan itu masih harus berdiri sekitar 30 menit sampai seluruh guru diperkenalkan. Kalau dipikir-pikir kasihan juga yah, untung saja para panitia diberikan tempat khusus di samping lapangan yang teduh Karena tertutup rimbunnya dedaunan pohon sekolah.
Rasa lelah jelas terlihat dari raut muka para siswa baru. Setelah upacara selesai, kami membiarkan mereka berisitrahat sebentar untuk melepas lelah dan saling berkenalan satu sama lain. Untungnya di dalam kelompokku, ada Ryan yang periang, dia bisa membuat anggota kelompokku menjadi cepat akrab. Bahkan Christopher yang pendiam sekarang tampak lebih nyaman untuk ikut ngobrol bersama anggota kelompok yang lain.
Tepat pukul 8:00, kami mulai memperkenalkan setiap anggota OSIS dan mengumumkan agenda acara untuk hari itu. Hari pertama hanya diisi dengan games kelompok, perlombaan, dan briefing untuk acara orientasi hari kedua. Sekolah kami memang mengharuskan acara orientasi dibuat menyenangkan tanpa ada unsur kekerasan. Games pertama kami sebut perahu kertas. Dalam games ini, seluruh anggota kelompok harus berdiri di atas selembar kertas tanpa ada bagian tubuh yang menyentuh lantai. Seiring waktu, kertas akan dilipat menjadi semakin kecil sehingga mereka harus saling berpegangan, bahkan sampai berpelukan dan menggendong. Mungkin karena masih SMP, mereka dengan santainya berpelukan tanpa ada perasaan risih sama sekali, bahkan Silvia dan Angel pun tidak keberatan ketika digendong oleh Ryan dan William.
Sekarang adalah saatnya istirahat makan siang. Sebagai senior yang baik hari, aku tidak ingin para juniorku ini kelaparan, jadi setelah bel istirahat berbunyi aku segera membawa mereka ke kantin sekolahku sambil memberikan tur kuliner tentang jajanan andalan masing-masing vendor di kantin sekolah. Akhirnya kami memutuskan untuk makan nasi hainan lengkap dengan daging ayam, telur, dan sayurannya.
Baru saja aku mau menyantap makan siangku itu, Sam tiba-tiba datang dan memintaku ikut ke ruang OSIS. Oiah Sam itu nama panggilan dari Samuel, dia adalah seniorku yang juga merupakan ketua OSIS sekolahku. Karena dia yang memintaku secara langsung, terpaksa aku tinggalkan makasih siangku yang tampak sang at lezat itu.
Di ruang OSIS hanya ada aku, Sam, dan seorang anak laki-laki berbadan tinggi, berwajah imut, dan berpakaian putih biru.
Sam kemudian memperkenalkanku pada anak itu. "El, ini Welvin dia anak baru. Tadi dia baru selesai mengurus pendaftaran sekolah, jadi baru bisa ikut acara orientasi sekarang", ucap Sam. Hmm pasti anak ini akan dimasukkan ke kelompokku, pikirku dalam hati. Dan ternyata benar dugaanku, Sam kemudian menyuruh Welvin untuk masuk ke kelompokku selama orientasi berlangsung. Yah sebenarnya aku agak enggan, karena biasanya anak yang diijinkan mendaftar di akhir itu hanya orang yang luar biasa kaya, dan anak anak ini biasanya sombongnya luar biasa. Tapi apa boleh buat, instruksi pak ketua tidak bisa dibantah, akhirnya Welvin masuk ke kelompokku juga.
Sam kemudian memperkenalkanku pada anak itu. "El, ini Welvin dia anak baru. Tadi dia baru selesai mengurus pendaftaran sekolah, jadi baru bisa ikut acara orientasi sekarang", ucap Sam. Hmm pasti anak ini akan dimasukkan ke kelompokku, pikirku dalam hati. Dan ternyata benar dugaanku, Sam kemudian menyuruh Welvin untuk masuk ke kelompokku selama orientasi berlangsung. Yah sebenarnya aku agak enggan, karena biasanya anak yang diijinkan mendaftar di akhir itu hanya orang yang luar biasa kaya, dan anak anak ini biasanya sombongnya luar biasa. Tapi apa boleh buat, instruksi pak ketua tidak bisa dibantah, akhirnya Welvin masuk ke kelompokku juga.
"Ko, ke kantin dulu donk. Aku laper nih". Itu adalah ucapan pertama nya kepadaku. Baru kenal saja sudah berani nyuruh senior, geramku dalam hati. Tapi mengingat nasi Hainan yang tadi sempat kutinggal, akhirnya kuputuskan untuk memenuhi permintaannya dan kami berdua segera berjalan menuju kantin yang letaknya di bagian belakang sekolah kami.
Setibanya kami, kantin sudah nyaris kosong. Mungkin karena memang waktu istirahat sudah hampir habis, untungnya aku dan Welvin sudah mendapat ijin khusus dari Sam untuk telat masuk, dengan syarat aku memberikan tur tentang sekolah kepada Welvin sambil menjelaskan aturan-aturan di sekolahku karena dia tidak mengikuti upacara penyambutan tadi pagi.
Untungnya nasi hainanku masih berada di tempat dimana aku tinggalkan tadi. Akupun mempersilakan Welvin untuk memilih makanan yang dia inginkan. Ternyata hampir seluruh vendor di kantin sudah kehabisan makanan karena banyak anak-anak baru di hari itu, sehingga para vendor belum bisa mempersiapkan jumlah makanan yang tepat. Akhirnya Welvin hanya membeli minuman saja karena memang sudah tidak ada makanan yang tersisa.
Welvin hanya menatapku selama aku menyantap nasi hainan. Ketika suapan ke-3 hendak kusantap, tiba-tiba terdengar suara dari depanku. Ternyata itu suara perut Welvin. Mukanyapun langsung merona malu, aku jadi tidak tega juga (mungkin karena faktor mukanya jadi tambah imut karena malu hahahaha). Akhirnya aku mengajak dia untuk makan bersama. Yah meski nasi hainannya tidak banyak dan kemungkinan kita ujung-ujungnya akan kelaparan berdua, tapi ya lumayanlah daripada Welvin kelaparan sendirian. Memang aku ini tipe senior yang sangat perhatian kepada juniornya ya.
Akhirnya kami berdua makan siang dari piring yang sama. Tidak lama kemudian, Sam muncul dan langsung dengan jahilnya berkata, " Oi El, kamu kan seharusnya jelasin aturan sekolah, bukannya pacaran duaan di kantin. Makan sepiring berdua pula. Hahaha". Aku tidak tahu muka siapa yang lebih merah karena malu, mukaku atau muka Welvin.
Tapi sejujurnya saat itu aku tidak tahu perasaan apa yang muncul dalam hatiku saat makan bersama Welvin. Aku berbagi makan siangku hanya karena kasihan melihat Welvin kelaparan, tanpa ada motivasi atau pemikiran lain. Tapi tanpa kusadari mungkin itulah saat benih cinta pertamaku mulai tumbuh.
Dalam ceritaku selanjutnya, aku akan menceritakah kisahku bersama Welvin : model fashion keren.
Stay tune di blog ini ya!
Untuk kritik dan saran, silakan tinggalkan komentar ya.
Untuk kritik dan saran, silakan tinggalkan komentar ya.
#love came at unexpected time
Tidak ada komentar:
Posting Komentar